Wednesday, August 22, 2012

"Menulis Sekarang Beda Daripada Dulu" -Eyang Mur


“Menulis di jaman sekarang itu beda daripada dulu. Kalau dulu, sekali salah ngetik nggak bisa dihapus. Harus diulang semuanya, kan masih pakai mesin ketik. Kalau sekarang sih lebih gampang, ada komputer”, terang Eyang Mur, adik dari eyangku yang sekarang biasa menulis di salah satu kolom koran di Solo.

Mungkin memang suatu kesempatan yang jarang aku, ayahku dan omku dapat. Kami semua mendapat kuliah umum tentang “menulis” dari seorang penulis secara langsung! Di forum dadakan ini, kami mendapatkan banyak pencerahan tentang apa itu sebenarnya menulis.

“Menulis di kolom koran itu juga berbeda daripada menulis di Internet. Kalau di Internet, pertanggungjawabannya kan hampir tidak ada. Sedangkan kalau salah sedikit saja menulis di koran, kita bisa kena tuntutan dan nantinya kita yang repot sendiri” terang beliau.

“Lalu, seorang penulis itu juga harus kaya akan kosakata atau istilah-istilah. Kalau penulis yang kosakatanya luar biasa hebat itu contohnya N.H. Dini. Beliau tahu banyak istilah-istilah. Contohnya menulis di koran itu kan rentan terkena tuntutan orang. Jadi kalau mau mengkritik biasanya kita pakai istilah, jadi bukan mengejek secara langsung tapi lewat sindiran. Sindiran juga bisa lewat media lain kayak puisi atau gambar”, tambah beliau lagi.

Eyang Mursito


Waktu forum dadakan itu, ternyata yang lagi beruntung adalah omku. Ia mendapatkan bukunya yang baru muncul dengan judul “Transisi Demokrasi”, sebuah buku kesaksian lengkap dengan tanda tangan si penulis, Wow ! Hahaha. Awalnya omku hanya bertanya beberapa hal tentang menulis, eh tapi ujung-ujungnya malah dapat buku karya Eyang Mur. Sudah dapat ilmu, dapat rejeki pula.

Ada satu bahasan lagi dari Eyang Mur tentang menulis, yaitu seputar “Alinea”. Kata beliau, kalau kita kehabisan ide untuk menulis itu kadang karena kita tidak paham betul apa arti dari alinea. Umumnya, satu alinea kan mengandung satu pokok bahasan. Jadi ada kalimat utama dan penjelas. Kalimat utama misalnya seperti “Tadi pagi Adikku berenang” lalu kalimat penjelasnya yang menjelaskan kalimat utama itu. Entah menjelaskan dimana adik tadi berenang, siapa saja yang ikut bersama adikku itu, bagaimana suasana saat adikku berenang, dan sebagainya. Tetapi, kebanyakan sekarang satu alinea itu mengandung lebih dari satu bahasan. Sehingga di satu alinea itu malah bisa jadi semua bahasan dituangkan di situ tanpa pembahasan, sehingga bahan yang akan ditulis pun akan habis. Itulah salah satu hal yang terkadang menyebabkan kita kehabisan bahan di dalam menulis. Begitulah menurut beliau tentang alinea itu sendiri.

Oh iya nyaris kelupaan. Beliau juga menerangkan bahwa membaca itu sebenarnya memperkaya kosakata kita dan meningkatkan kemampuan kita di dalam berkomunikasi. Seberapa sering orang membaca buku itu bisa dilihat dari cara dan bahasanya di dalam berkomunikasi. Makanya kalau ada orang yang tanya ke kita apa gunanya membaca banyak buku, ya tentu saja berguna. Salah satunya adalah menambah wawasan kita.

Satu pesan dari beliau yang tidak bisa dilupakan : “Semua itu kalau kita tekun nanti pasti akhirnya sukses kok. Kerja keras dan disiplin” . Seperti pepatah kesayangan, Man Jadda Wajada, siapa yang berusaha maka Ia akan mendapatkan. Jadikan pepatah ini pegangan!

Oh iya, eyang Mur ini bukan eyangku secara langsung. Tapi adiknya eyangku dari ibuku. Kebetulan beliau juga seorang dosen di salah satu PTN terkemuka di Solo.

Thursday, August 16, 2012

Menulis - Teman Curhat Kedua




Remaja sekarang bawaannya galau. Biasanya kalau banyak teman kita yang galau, kita jadi ikut-ikutan galau. Setelah diselidiki, ternyata galau remaja adalah virus akut yang menular! Makanya hati-hati mulai sekarang kalau sama remaja galau yang menye.

Wajar jika seorang remaja sering curhat kepada seseorang yang Ia percaya. Memang, masa remaja adalah masa yang paling banyak dipenuhi masalah-masalah entah cinta, nilai, orangtua, teman dan lain-lain. Tapi, mari kuperkenalkan teman curhatku yang kedua. Namanya itu menulis.

                Aku menulis sudah sejak beberapa bulan dulu. Apa yang aku tulis adalah kejadian-kejadian menarik yang kualami. Sebenarnya bukan diary, tapi lebih ke buku catatan kejadian-kejadian yang penting.

                Kenapa menulis menjadi teman curhatku yang kedua? Karena di situ, aku benar-benar bisa dan bebas mengungkapkan emosiku dengan kata-kata. Tentunya perasaan kita akan lega setelah kita mengeluarkan emosi kita seperti marah dan menangis contohnya. Bedanya, di menulis ini kita mengeluarkan emosi kita dengan kata-kata.

                Mungkin bagi yang baru memulai, begitu Ia selesai menulis maka Ia akan malu membaca ulang tulisannya. Jujur, aku seperti itu dulu. Tapi ternyata menyenangkan juga rasanya menulis seperti ini. Perasaan lega, sekalian latihan menulis dan juga nanti siapa tahu 10 tahun ke depan kita masih bisa membaca tulisan kita sekarang ini. Aku yakin, waktu itu kita akan mentertawakan tulisan kita itu atau mengagumi kedewasaan kita yang sudah ada sekarang ini. “Ternyata aku dulu konyol seperti ini ya”. “Ternyata pas aku masih umur sekian, aku sudah bisa berkata seperti ini” . Masih banyak lagi kata-kata yang mungkin akan keluar di benak kita jika saat kita sudah dewasa ini nanti, kita membaca tulisan kita sekarang ini.

                Tak ada salahnya mencoba menulis. Siapa tahu ternyata kamu berbakat menyusun kata-kata indah yang bisa membuat orang takjub diam seribu kalimat. Yuk, mari budayakan menulis berbagai hal yang baik J