“Menulis di jaman sekarang itu beda
daripada dulu. Kalau dulu, sekali salah ngetik nggak bisa dihapus. Harus
diulang semuanya, kan masih pakai
mesin ketik. Kalau sekarang sih lebih
gampang, ada komputer”, terang Eyang Mur, adik dari eyangku yang sekarang biasa
menulis di salah satu kolom koran di Solo.
Mungkin memang suatu kesempatan yang jarang aku, ayahku dan omku dapat. Kami semua mendapat kuliah umum tentang “menulis” dari seorang penulis secara langsung! Di forum dadakan ini, kami mendapatkan banyak pencerahan tentang apa itu sebenarnya menulis.
“Menulis di kolom koran itu juga berbeda daripada menulis di Internet. Kalau di Internet, pertanggungjawabannya kan hampir tidak ada. Sedangkan kalau salah sedikit saja menulis di koran, kita bisa kena tuntutan dan nantinya kita yang repot sendiri” terang beliau.
“Lalu, seorang penulis itu juga harus kaya akan kosakata atau istilah-istilah. Kalau penulis yang kosakatanya luar biasa hebat itu contohnya N.H. Dini. Beliau tahu banyak istilah-istilah. Contohnya menulis di koran itu kan rentan terkena tuntutan orang. Jadi kalau mau mengkritik biasanya kita pakai istilah, jadi bukan mengejek secara langsung tapi lewat sindiran. Sindiran juga bisa lewat media lain kayak puisi atau gambar”, tambah beliau lagi.
Eyang Mursito
Mungkin memang suatu kesempatan yang jarang aku, ayahku dan omku dapat. Kami semua mendapat kuliah umum tentang “menulis” dari seorang penulis secara langsung! Di forum dadakan ini, kami mendapatkan banyak pencerahan tentang apa itu sebenarnya menulis.
“Menulis di kolom koran itu juga berbeda daripada menulis di Internet. Kalau di Internet, pertanggungjawabannya kan hampir tidak ada. Sedangkan kalau salah sedikit saja menulis di koran, kita bisa kena tuntutan dan nantinya kita yang repot sendiri” terang beliau.
“Lalu, seorang penulis itu juga harus kaya akan kosakata atau istilah-istilah. Kalau penulis yang kosakatanya luar biasa hebat itu contohnya N.H. Dini. Beliau tahu banyak istilah-istilah. Contohnya menulis di koran itu kan rentan terkena tuntutan orang. Jadi kalau mau mengkritik biasanya kita pakai istilah, jadi bukan mengejek secara langsung tapi lewat sindiran. Sindiran juga bisa lewat media lain kayak puisi atau gambar”, tambah beliau lagi.
Eyang Mursito
Waktu forum dadakan itu, ternyata
yang lagi beruntung adalah omku. Ia mendapatkan bukunya yang baru muncul dengan
judul “Transisi Demokrasi”, sebuah buku kesaksian lengkap dengan tanda tangan
si penulis, Wow ! Hahaha. Awalnya omku hanya bertanya beberapa hal tentang
menulis, eh tapi ujung-ujungnya malah dapat buku karya Eyang Mur. Sudah dapat
ilmu, dapat rejeki pula.
Ada satu bahasan lagi dari Eyang Mur tentang menulis, yaitu seputar “Alinea”. Kata beliau, kalau kita kehabisan ide untuk menulis itu kadang karena kita tidak paham betul apa arti dari alinea. Umumnya, satu alinea kan mengandung satu pokok bahasan. Jadi ada kalimat utama dan penjelas. Kalimat utama misalnya seperti “Tadi pagi Adikku berenang” lalu kalimat penjelasnya yang menjelaskan kalimat utama itu. Entah menjelaskan dimana adik tadi berenang, siapa saja yang ikut bersama adikku itu, bagaimana suasana saat adikku berenang, dan sebagainya. Tetapi, kebanyakan sekarang satu alinea itu mengandung lebih dari satu bahasan. Sehingga di satu alinea itu malah bisa jadi semua bahasan dituangkan di situ tanpa pembahasan, sehingga bahan yang akan ditulis pun akan habis. Itulah salah satu hal yang terkadang menyebabkan kita kehabisan bahan di dalam menulis. Begitulah menurut beliau tentang alinea itu sendiri.
Oh iya nyaris kelupaan. Beliau juga menerangkan bahwa membaca itu sebenarnya memperkaya kosakata kita dan meningkatkan kemampuan kita di dalam berkomunikasi. Seberapa sering orang membaca buku itu bisa dilihat dari cara dan bahasanya di dalam berkomunikasi. Makanya kalau ada orang yang tanya ke kita apa gunanya membaca banyak buku, ya tentu saja berguna. Salah satunya adalah menambah wawasan kita.
Satu pesan dari beliau yang tidak bisa dilupakan : “Semua itu kalau kita tekun nanti pasti akhirnya sukses kok. Kerja keras dan disiplin” . Seperti pepatah kesayangan, Man Jadda Wajada, siapa yang berusaha maka Ia akan mendapatkan. Jadikan pepatah ini pegangan!
Oh iya, eyang Mur ini bukan eyangku secara langsung. Tapi adiknya eyangku dari ibuku. Kebetulan beliau juga seorang dosen di salah satu PTN terkemuka di Solo.
Ada satu bahasan lagi dari Eyang Mur tentang menulis, yaitu seputar “Alinea”. Kata beliau, kalau kita kehabisan ide untuk menulis itu kadang karena kita tidak paham betul apa arti dari alinea. Umumnya, satu alinea kan mengandung satu pokok bahasan. Jadi ada kalimat utama dan penjelas. Kalimat utama misalnya seperti “Tadi pagi Adikku berenang” lalu kalimat penjelasnya yang menjelaskan kalimat utama itu. Entah menjelaskan dimana adik tadi berenang, siapa saja yang ikut bersama adikku itu, bagaimana suasana saat adikku berenang, dan sebagainya. Tetapi, kebanyakan sekarang satu alinea itu mengandung lebih dari satu bahasan. Sehingga di satu alinea itu malah bisa jadi semua bahasan dituangkan di situ tanpa pembahasan, sehingga bahan yang akan ditulis pun akan habis. Itulah salah satu hal yang terkadang menyebabkan kita kehabisan bahan di dalam menulis. Begitulah menurut beliau tentang alinea itu sendiri.
Oh iya nyaris kelupaan. Beliau juga menerangkan bahwa membaca itu sebenarnya memperkaya kosakata kita dan meningkatkan kemampuan kita di dalam berkomunikasi. Seberapa sering orang membaca buku itu bisa dilihat dari cara dan bahasanya di dalam berkomunikasi. Makanya kalau ada orang yang tanya ke kita apa gunanya membaca banyak buku, ya tentu saja berguna. Salah satunya adalah menambah wawasan kita.
Satu pesan dari beliau yang tidak bisa dilupakan : “Semua itu kalau kita tekun nanti pasti akhirnya sukses kok. Kerja keras dan disiplin” . Seperti pepatah kesayangan, Man Jadda Wajada, siapa yang berusaha maka Ia akan mendapatkan. Jadikan pepatah ini pegangan!
Oh iya, eyang Mur ini bukan eyangku secara langsung. Tapi adiknya eyangku dari ibuku. Kebetulan beliau juga seorang dosen di salah satu PTN terkemuka di Solo.


