Masih dari khutbah di masjid kampung
saya, masjid Nurut Taqwa tanggal 20 Juli 2013, Pak Penceramah bercerita tentang
mencintai Allah.
Masalah mencintai Allah ini, Pak
Penceramah mencoba membandingkan dengan kehidupan sehari-hari. Ia bercerita
bahwa kita di masa muda,saat kita mencintai seseorang, rasanya segalanya begitu
indah. Lewat rumahnya saja rasanya sudah membahagiakan hati yang gundah ini.
Tetapi, saat kita melewati rumah Allah, yaitu masjid, adakah kita merasa
bahagia? Adakah hati kita merasa tentram?
Lalu,
saat kita melewati rumah sang pujaan hati itu, betapa bahagianya kita bilamana
pintu rumah tersebut dibuka, lalu sang pujaan hati kita itu datang dan
berbicara,”Hai kamu. . Kemarilah! Mampirlah sejenak di rumahku ini!” .Tentunya
kita akan sangat senang bukan, senangnya bukan main malahan. Tapi apabila
dikumandangkan Adzan, seruan-Nya untuk bertemu dengan-Nya, adakah kita
senantiasa menjawab panggilan-Nya?
Saya
sendiri pun termasuk yang imannya labil, naik turun jatuh bangun maju mundur.
Terkadang ke masjid, terkadang tidak. Tapi biarlah ini mengingatkan kita semua
bahwa terkadang, kita terlalu asyik terhadap diri kita sendiri, dan sering lupa
pada-Nya. Karena sifat dasar manusia rata-rata adalah mudah lupa, jika tidak
senantiasa dilakukan dan menjadi kebiasaan. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat
untuk Anda semua para pembaca yang budiman.
Sumber : Khutbah Tarawih Masjid Nurut Taqwa tanggal 20 Juli 2013
Sumber : Khutbah Tarawih Masjid Nurut Taqwa tanggal 20 Juli 2013

No comments:
Post a Comment